Hotel di Pangandaran - Mungkin banyak masyarakat tidak mengetahui bahwa tanggal 30 Maret kemarin, biasa diperingati sebagai Hari Perfilman Nasional. Selain itu, momen terebut juga menjadi penanda usia sejarah panjang pasang surut perfilman Indonesia yang sudah hampir enam puluh tahun berjalan.Tahun 1950, Usmar Ismail, memproduksi film Darah dan Doa yang merupakan film Indonesia pertama. Dikatakan pertama, karena untuk pertama kalinya sebuah film, diselesaikan seluruhnya baik secara teknis-kreatif maupun secara ekonomis, oleh anak-anak Indonesia sendiri. Dan di film itu pulalah, untuk pertama kalinya film di Indonesia mengangkat kejadian dan tema yang bersifat nasional. Dewan Film Nasional dalam konfrensinya pada 11 Oktober 1962, lalu menetapkan hari pertama pengambilan gambar film tersebut, 30 Maret, sebagai Hari Film Nasional.
Pangandaran - Rentang sejarah panjang perfilman Indonesia pun berkali-kali diwarnai dengan periode pasang surut. Satu masa, film-film Indonesia pernah sukses mencapai puncak kejayaannya dan mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Namun dalam masa yang lain, perfilman Indonesia juga pernah mecapai titik nadir. Perfilman jatuh pada titik lesu dan kalah bersaing dengan industri hiburan lain seperti pertelevisian.Pada era 90-an, industri perfilman mengalami kejatuhan. Kehadiran televisi dengan program-program unggulannya seperti sinema elektronik (sinetron), membuat industri perfilman mendapat pesaing berat. Bukan hanya itu, kehadiran tekhnologi terbaru Video deck dan laser disk (yang pada generasi selanjutnya ada pula VCD dan DVD) membuat film bioskop mulai ditinggalkan penggemarnya. Ditambah lagi dengan kualitas film-film yang dihasilkan yang semakin buruk, ceritanya yang cenderung seragam, dan hanya mengejar sisi komersial, membuat film Indonesia semakin tidak kompetitif. Serbuan film-film asing juga turut berperan membuat mundur industri perfilman tanah air. Film Indonesia tidak mampu menjadi raja di rumahnya sendiri. Dunia perfilman Indonesia pun memasuki masa gelapnya. Industri film mulai bertumbangan. Banyak bioskop akhirnya terpaksa gulung tikar.
Memasuki akhir era 90-an, perfilman Indonesia yang sempat mati suri, seakan menemukan nafas barunya. Kehadiran sineas-sineas muda nan kreatif seperti Mira Lesmana, Riri Riza, Rudi Sujarwo, Nia Dinata, dan Joko Anwar, mulai membuat industri perfilman kembali bergairah. Film-film berkualitas seperti Petualangan Sherina, Eliana Eliana, Kuldesak, dan Daun di Atas Bantal, memberikan denyut baru bagi pencinta film tanah air. Produksi film-film karya anak negeri pun mulai kembali menggeliat.
Memasuki era keterbukaan pasca reformasi, dunia perfilman Indonesia akhirnya benar-benar bangkit. Film-film dalam negeri, satu persatu mulai kembali merajai pasar. Para sineas-sineas muda mulai lahir. Bioskop-bioskop pun kembali menjamur di seluruh pelosok negeri.
Akhirnya kini film Indonesia mampu kembali menjadi raja di negerinya sendiri. Bahkan beberapa film, berhasil menguasai box office di bioskop-bioskop tanah air. Bahkan film-film seperti Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, dan Sang Pemimpi, mampu memecahkan rekor penonton terbayak dan meraih keuntungan berkali-kali lipat. Namun pesatnya industri perfilman saat ini bukannya tanpa masalah. Banyaknya film-film yang diproduksi, tidak dibarengi dengan keberagaman tema dan cederung miskin akan pesan-pesan sosial. Film Indonesia hari ini, lebih banyak dipenuhi dengan tema-tema mistik dan seks. Para produser dan sineas pun cenderung hanya mengejar sisi komerialisme, dan memasukkan unsur mistik dan seks di dalam film seperti menjadi resep ampuh untuk membuat sebuah film laku di pasaran.
Kondisi ini jelas memprihatinkan. Sebagian pengamat film bahkan mengatakan, bahwa dunia perfilman Indonesia menyimpan bom waktu. Kondisi yang sama juga pernah terjadi di era 90-an, ketika komersialisme perfilman merajalela. Hasilnya dunia perfilman mati suri. Karena itu tidak heran, banyak pengamat perfilman yang meramalkan, seandainya kondisi seperti saat ini terus dibiarkan, bisa jadi ini merupakan awal dari surutnya kembali dunia perfilman Indonesia. Sejatinya, film bukanlah semata-mata barang dagangan, tetapi merupakan alat pendidikan dan penerangan yang mempunyai daya pengaruh yang besar sekali pada masyarakat. James Monaco dalam How to Read a Film menyatakan bahwa film dapat dilihat dalam tiga kategori. Sebagai ‘Cinema’ (dilihat dari segi estetika dan sinematografi), ‘Film’ (hubungannya dengan hal di luar film, seperti sosial dan politik), dan ‘Movies’ (sebagai barang dagangan). Dan kebanyakan masyarakat dan pelaku industri perfilman memperlakukan film hanya sebagai ‘Movies’ atau ‘Cinema’, bukan sebagai ‘Film’.
Karena itulah, sepatutnya film-film Indonesia tidak lagi hanya mengedepankan sisi komerialismenya. Sebuah film haruslah sarat dengan pesan-pesan dan kritik sosial. Film selayaknya mampu mempresentasikan wajah masyarakatnya. Menjalankan fungsinya sebagai arsip sosial yang menangkap jiwa zaman pada setiap masanya. Beruntunglah hingga saat ini, masih ada para pelaku film yang berani melawan arus film Indonesia yang lebih banyak dipenuhi unsur mistik dan seks. Sebutlah nama Mira Lesmana, Riri Riza, Rudi Sujarwo, Nia Dinata, Dedi Mizwar atau Hanung Bramantyo. Mereka masih bisa eksis di tengah persaingan dunia industri perfilman. Bahkan tidak jarang karya mereka yang dianggap keluar dari mainstream, justru malah meledak di pasaran dan meraih banyak penghargaan, seperti Petualangan Sherina (Riri Riza), Mengejar Matahari (Rudi Sujarwo), Naga Bonar Jadi 2 dan Kiamat Sudah Dekat (Dedi Mizwar), Ayat-ayat Cinta (Hanung Bramantyo), dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (Chaerul Umam), dan tentu saja yang paling fenomenal film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi (Mira Lesmana - Riri Riza) yang berhasil mencetak rekor penonton tertinggi.
Semoga saja, kedepannya akan semakin banyak lahir sineas-sineas yang kreatif, yang tidak hanya menjadikan film sebagai ‘Movies’ atau ‘Cinema’, namun mampu menjadikan film sebagai sebenar-benarnya ‘Film’, sehingga film tidak hanya menghibur namun juga kaya akan pesan dan kritik sosial.
No comments:
Post a Comment